Wamenperin Dorong Ekspor Kakao Olahan: Potensi Devisa dan Daya Saing Global Kian Menguat

Wamenperin Dorong Ekspor Kakao Olahan: Potensi Devisa dan Daya Saing Global Kian Menguat – Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyoroti pentingnya pengembangan ekspor kakao olahan sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat industri agro berbasis komoditas unggulan. Dalam pembukaan pre-event Specialty Indonesia 2025, Faisol menyampaikan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara pengolahan kakao terbesar ke-4 di dunia, dengan volume ekspor mencapai 340.000 ton ke 110 negara dan nilai devisa lebih dari USD 2,4 miliar.

Kakao Indonesia: Potensi Besar yang Belum Tergarap Maksimal

Indonesia memiliki kekayaan alam berupa biji kakao dengan profil aroma dan https://simetabesda.bappedalitbangkabbanggai.id/ rasa yang beragam. Namun, tantangan di sektor hulu seperti penurunan produksi petani, alih fungsi lahan, dan pengaruh iklim membuat pasokan bahan baku semakin terbatas. Di sisi lain, permintaan global terhadap produk kakao olahan terus meningkat, terutama untuk segmen cokelat artisan dan premium.

Strategi Pengembangan Ekspor Kakao Olahan

Wamenperin menekankan bahwa pengembangan ekspor kakao harus dilakukan melalui pendekatan terintegrasi, meliputi:

1. Hilirisasi Industri Kakao

  • Mendorong produksi cocoa butter, cocoa powder, cocoa liquor, dan produk turunan bernilai tinggi
  • Memperkuat struktur industri pengolahan dalam negeri
  • Menurunkan ketergantungan pada ekspor biji mentah

2. Penguatan SDM dan Teknologi

  • Pelatihan petani melalui program Dokter Kakao
  • Pendampingan koperasi dan UMKM pengolah kakao
  • Penerapan teknologi fermentasi dan grading biji kakao

3. Promosi dan Branding Internasional

  • Partisipasi dalam ajang Specialty Indonesia 2025
  • Kompetisi bean to bar untuk produk cokelat artisan
  • Business matching dengan buyer global

Specialty Indonesia 2025: Panggung Produk Agro Premium

Ajang Specialty Indonesia 2025 yang digelar pada 4–8 Agustus 2025 di bonus new member Plaza Industri Kemenperin menjadi momentum penting untuk mengenalkan produk agro unggulan Indonesia. Kakao olahan akan ditampilkan bersama teh, kopi, hortikultura, dan olahan susu dalam format:

  • Pameran 40 tenan
  • Workshop dan talkshow
  • Kompetisi bean to bar, tea mixology, dan latte art
  • Business matching dengan buyer internasional

Cokelat Artisan: Produk Bernilai Tinggi dan Berdaya Saing

Produk cokelat artisan berbasis bean to bar menjadi sorotan karena memiliki nilai tambah hingga 1.500% dibanding produk cokelat biasa. Dengan 600 profil aroma kakao Indonesia, produsen cokelat artisan mampu menghasilkan produk unik yang digemari wisatawan dan pasar premium.

Saat ini terdapat 50 usaha cokelat artisan dengan kapasitas slot deposit qris produksi 1.242 ton per tahun, dan pangsa pasar baru mencapai 1,3% dari potensi 10% pasar cokelat nasional.

Dukungan Pemerintah: Sinergi Lintas Kementerian dan Lembaga

Wamenperin menekankan perlunya sinergi antara Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan untuk:

  • Menjaga pasokan bahan baku kakao lokal
  • Meningkatkan produktivitas petani
  • Menyusun kebijakan ekspor yang mendukung industri hilir

Program seperti Cocoa Doctor, restrukturisasi mesin, dan kampanye cokelat sehat menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Pengembangan ekspor kakao olahan memberikan dampak positif yang luas:

Dampak Ekonomi Implikasi Langsung
Peningkatan devisa USD 2,4 miliar per tahun
Penyerapan tenaga kerja 2.500 tenaga kerja langsung di industri
Pemberdayaan petani 3.700 petani mitra melalui Cocoa Doctor
Daya saing global Posisi ekspor cocoa butter nomor 2 dunia

Penutup: Kakao Indonesia Siap Menjadi Pemain Global

Wamenperin Faisol Riza menegaskan bahwa ekspor kakao olahan adalah masa depan industri agro Indonesia. Dengan dukungan kebijakan hilirisasi slot gacor spaceman, penguatan SDM, dan promosi internasional, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi epicentrum cokelat global.

Langkah ini bukan hanya soal ekspor, tetapi tentang membangun ekosistem industri yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing tinggi.